Relawan PMI Bali: Cara Mengelola ‘Compassion Fatigue’ Saat Bertugas Darurat

Admin_pmibali/ Desember 31, 2025/ Berita

Menjadi seorang relawan kemanusiaan di wilayah yang sangat aktif secara pariwisata maupun aktivitas alam seperti Bali bukanlah tugas yang mudah. Para anggota Palang Merah Indonesia (PMI) di Bali sering kali berada di garda terdepan dalam menangani berbagai situasi darurat, mulai dari kecelakaan lalu lintas, bencana alam, hingga penanganan krisis di lokasi wisata. Namun, di balik semangat pengabdian yang luar biasa, terdapat risiko psikologis yang nyata yang menghantui setiap relawan, yaitu apa yang dikenal sebagai compassion fatigue atau kelelahan empati. Kondisi ini terjadi ketika seseorang merasa terkuras secara emosional dan fisik akibat terus-menerus terpapar pada penderitaan dan trauma orang lain yang mereka bantu.

Kelelahan empati sering kali datang secara perlahan tanpa disadari. Gejalanya bisa berupa rasa mati rasa secara emosional, mudah marah, sulit tidur, hingga hilangnya motivasi untuk terus bertugas. Bagi relawan di Bali, tantangannya berlipat ganda karena mereka dituntut untuk tetap profesional dan menunjukkan keramahan di tengah situasi yang penuh tekanan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini tidak hanya merugikan kesehatan mental sang relawan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas pelayanan kemanusiaan yang diberikan. Oleh karena itu, penguasaan teknik manajemen stres dan pemulihan diri menjadi materi yang sangat krusial dalam pelatihan dasar kepalangmerahan di tingkat provinsi.

Salah satu cara efektif dalam mengelola kelelahan ini adalah dengan menerapkan sistem peer support atau dukungan antar rekan sejawat. PMI Bali mendorong setiap anggota untuk saling terbuka mengenai beban perasaan yang mereka alami setelah menangani kasus yang traumatis. Diskusi kelompok kecil setelah penugasan atau sesi debriefing emosional memungkinkan para relawan untuk mengeluarkan emosi yang terpendam sehingga tidak menumpuk menjadi beban mental yang berat. Menyadari bahwa rekan kerja juga merasakan hal yang sama akan mengurangi perasaan terisolasi. Kekuatan komunitas inilah yang menjadi benteng pertahanan utama bagi kesehatan mental para pejuang kemanusiaan di Pulau Dewata.

Share this Post