Panduan Teknik Evakuasi Mandiri bagi Disabilitas Saat Terjadi Bencana
Indonesia, khususnya wilayah dengan risiko seismik tinggi seperti Bali, memiliki tantangan unik dalam mitigasi bencana, terutama bagi kelompok rentan. Kelompok disabilitas sering kali menghadapi kendala aksesibilitas yang menghambat proses penyelamatan diri secara cepat saat situasi darurat terjadi. Oleh karena itu, PMI Bali telah menyusun panduan komprehensif mengenai teknik evakuasi mandiri yang dirancang khusus untuk memastikan keselamatan individu dengan berbagai jenis keterbatasan fisik, sensorik, maupun kognitif.
Prinsip utama dalam evakuasi mandiri adalah kesiapan mental dan perencanaan. Bagi individu penyandang disabilitas, langkah pertama adalah mengenali lingkungan sekitar dan memetakan jalur evakuasi yang paling minim hambatan. Panduan ini menekankan pentingnya bagi penyandang disabilitas untuk memiliki “tas siaga bencana” yang berisi kebutuhan dasar, obat-obatan pribadi, serta alat komunikasi. Selain itu, teknik yang disosialisasikan oleh PMI tidak hanya berfokus pada individu itu sendiri, tetapi juga bagaimana individu tersebut dapat memberikan instruksi singkat kepada orang lain yang mungkin mencoba menolong mereka di tengah kepanikan.
Salah satu fokus dalam edukasi ini adalah teknik evakuasi bagi pengguna kursi roda atau alat bantu jalan. Dalam situasi bencana, lift tidak boleh digunakan, sehingga mereka perlu mengetahui teknik berpindah (transfer) secara mandiri ke tempat yang aman atau teknik meminta bantuan untuk digendong/diangkut jika jalur evakuasi memiliki banyak tangga. PMI Bali juga menekankan pentingnya komunitas lokal untuk terlibat aktif. Penyandang disabilitas didorong untuk memiliki “mitra evakuasi” di lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja yang memahami kebutuhan spesifik mereka dan tahu bagaimana cara memberikan bantuan tanpa menyebabkan cedera tambahan.
Untuk penyandang disabilitas sensorik seperti tunanetra, panduan ini memuat cara navigasi aman menggunakan tongkat putih dengan tetap menjaga kesadaran akan arah angin, suara peringatan, dan posisi pintu keluar darurat. Sementara bagi tunarungu, kesadaran visual menjadi kunci. PMI menyarankan agar gedung-gedung publik di Bali dilengkapi dengan sistem peringatan visual (lampu kedip) di samping alarm suara. Pemahaman mengenai isyarat visual ini sangat membantu mereka dalam merespons situasi bahaya secara cepat sebelum bantuan tim evakuasi tiba di lokasi.