Eco Humanitarian: Integrasi Aspek Lingkungan dalam Setiap Aksi Respon Bencana di Bali
Konsep Eco Humanitarian lahir dari kesadaran bahwa bantuan kemanusiaan dan pelestarian alam adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dalam setiap aksi respon bencana, seringkali penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan limbah medis, dan pembersihan puing-puing bangunan dilakukan tanpa perencanaan lingkungan yang matang. Di Bali, integrasi aspek lingkungan diwujudkan melalui penggunaan kemasan makanan ramah lingkungan di dapur umum, sistem pengolahan air bersih yang hemat energi, hingga manajemen sampah di lokasi pengungsian yang terpadu. Pendekatan ini memastikan bahwa martabat para penyintas bencana tetap terjaga dalam lingkungan yang bersih dan sehat.
Gerakan kemanusiaan modern di Pulau Dewata kini mulai mengadopsi standar keberlanjutan yang lebih tinggi, salah satunya melalui inisiatif pertukaran relawan kemanusiaan yang berfokus pada mitigasi dampak lingkungan di daerah terdampak. Program pertukaran relawan kemanusiaan ini menjadi platform penting untuk mengadopsi praktik terbaik dari berbagai negara dalam mengelola bantuan bencana tanpa merusak ekosistem lokal. Bali, sebagai destinasi wisata dunia, memiliki kerentanan ekologis yang tinggi, sehingga setiap aksi respon bencana yang dilakukan oleh lembaga seperti PMI harus mempertimbangkan jejak karbon dan limbah yang dihasilkan selama operasi berlangsung agar tidak menimbulkan masalah lingkungan baru pasca-bencana.
Integrasi aspek lingkungan juga mencakup pemilihan material untuk hunian sementara (huntap). PMI Bali mulai menjajaki penggunaan bahan-bahan lokal yang berkelanjutan atau material bongkar pasang yang dapat digunakan kembali untuk meminimalisir sampah konstruksi. Selain itu, pelatihan bagi para relawan kini mencakup kurikulum mengenai etika lingkungan saat bertugas di lapangan. Para relawan diajarkan cara meminimalkan kerusakan pada vegetasi saat melakukan pencarian dan penyelamatan (SAR) serta pentingnya menjaga sumber air dari kontaminasi zat kimia selama proses pemulihan wilayah terdampak bencana.
Dalam setiap aksi respon bencana, sinergi dengan komunitas lokal menjadi kunci keberhasilan prinsip eco-humanitarian. Masyarakat Bali yang memegang teguh konsep Tri Hita Karana—keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam—sangat responsif terhadap program kemanusiaan yang juga menghargai kelestarian lingkungan. PMI Bali berupaya agar posko-posko bantuan dapat menjadi contoh nyata penerapan energi terbarukan, seperti penggunaan panel surya portabel untuk kebutuhan listrik darurat. Dengan cara ini, lembaga kemanusiaan tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga melakukan edukasi lingkungan secara langsung kepada masyarakat yang sedang dalam masa pemulihan.